Cerita Inspirasi

Nama : Dila Ratna Sari
NRP : H34100013
Laskar : 23

Saya memiliki sebuah pengalaman yang menurut saya sangat memotivasi dalam hidup saya. Pengalaman ini membuat saya menjadi lebih dewasa dan cermat dalam berpikir. Pengalaman ini terjadi saat saya duduk di kelas tiga SMA.
Saya adalah anak ke tiga dari lima bersaudara. Saya memiliki dua orang kakak perempuan, satu orang adik perempuan dan satu orang adik laki-laki. Saya tinggal bersama keluarga saya di sebuah rumah sederhana namun saya rasa sangat nyaman. Saya termasuk anak yang manja apalagi terhadap ibu saya dan saya tidak pernah berpikir bisa bersekolah jauh dari ibu saya.
Pengalaman ini bermula saat saya duduk di bangku kelas tiga SMA. Saya bersekolah di SMA N 1 Lubuklinggau yang merupakan sekolah unggulan di kota saya. Alhamdulillah di sekolah ini saya selalu masuk peringkat tiga besar. Hal itu membuat saya semakin semangat belajar saat kelas tiga, karena saya ingin mengejar PMDK.
Dari kecil saya sangat ingin jadi dokter, karena menurut saya dengan menjadi dokter saya bisa menjadi orang kaya. Hmmm… benar-benar pemikiran anak kecil. Namun hal itu pula yang membuat ayah saya sangat menginginkan saya menjadi seorang dokter. Namun saat saya memasuki SMA, pikiran saya berubah total dan saya sama sekali tidak ingin jadi dokter.
Saat duduk di bangku kelas tiga SMA, ayah sudah mewanti-wanti menyuruh saya belajar agar bisa ikud di PMDK kedokteran, tapi saya selalu berkata bahwa hal tersebut sangat sulit dan ayah selalu bilang berusaha dulu dan berdo’a. Keinginan ayah tersebut membuat saya sangat sedih dan takut kalau tidak bisa mewujudkannya.
Pada bulan desember, yang telah memasuki semester ganjil kelas tiga ternyata USMI IPB sudah mengirim undangan ke SMA saya dan saya pun langsung mendiskusikannya dengan keluarga saya. Ajaibnya, ayah memperbolehkan saya ikut. Awalnya saya merasa tidak ingin masuk IPB, karena jaraknya yang jauh dan IPB merupakan sebuah institut pertanian. Kebanyakan orang juga menganggap remeh tentang pertanian.

Pada bulan februari pengumuman USMI sudah keluar dan Alhamdulillah saya di terima. Saya merasa sangat senang. Namun ayah saya tetap mengingikan saya menjadi dokter, sehingga saya pun masih mengikuti SNMPTN. Namun nampaknya Allah berkehendak lain, karena saya tidak lulus SNMPTN. Alhamdulillah ayah tidak marah pada saya. Dan saya pun tetap bersyukur.
Saat memasuki IPB saya merasa sangat sedih karena harus sekamar dengan tiga orang dan saya sudah terbiasa di kamar sendiri. Namun lama kelamaan ternyata hal tersebut sangat menyenangkan dan membuat saya lebih bisa berbagi dengan orang lain.
Sekarang saya harus berusah belajar sebaik mungkin agar bisa manjadi yang terbaik dan membuat orang tua bangga pada saya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

cerita inspirasi – Saat di Landa Badai

Nama : Dila Ratna Sari
NRP : H34100013
Laskar : 23

By : Ibu jempol
Saat di Landa Badai
Hari ini, Sabtu, 24 Januari 2009, kami sedang diserang badai. Menurut perkiraan cuaca angin berhembus dengan kekuatan mencapai 150 Km / jam. Ingatanku melayang ke kejadian 9 tahun lalu yang akan kukisahkan berikut ini. Sekedar informasi, cerita motivasiku ini adalah salah satu cerita pendek yang muncul sebagai antologi bersama Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia berjudul One Giga Byte of Love yg diluncurkan Februari 2008. Silakan cari di Toko buku Gramedia, moga2 masih ada. Selamat menyimak cerita pendekku ini.
“Habis, semuanya hancur, tak ada yang tersisa!”. Itu kalimat yg masih kuingat sampai sekarang walau kalimat itu diucapkan 6 tahun yang lalu (waktu aku menulis cerita ini adalah 6 thn lalu, sedangkan per hari ini adalah 9 tahun yg lalu, red).
Kalimat yang diucapkan papa mertuaku, René, saat badai Tempête yg melanda Perancis pada akhir Desember 1999 meporak -porandakan puluhan hektar hutan pinusnya.
Masih kuingat jelas suaranya menyiratkan kekecewaan yang dalam, menyiratkan kesedihan, juga keletihan. Bagaimana tidak. Hutan pinusnya itu ditanami dan dipelihara beliau dan istrinya almarhumah sejak 40 tahun yang lalu.
Pohon-pohon pinus itu siap dipanen musim semi mendatang. Tinggal 3 atau 4 bulan lagi kerja kerasnya selama 40 tahun akan dipanen dan menghasilkan ratusan ribu francs (saat itu mata uang Perancis masih francs, belum euro, red).
Alam menentukan lain, dalam sekecap mata, tak sampai setengah jam, Tempête membuat semua pohon itu tumbang sebelum masanya, tercabut sampai ke akar-akarnya. Tempête memporak porandakan impian papa René dan ribuan warga perancis lainnya yang mempunyai usaha hutan / penanaman kayu.
Ingin rasanya saat itu juga kami segera ke rumah Papa René. Tapi itu tak mungkin kami lakukan. Saat itu kehamilanku menjelang usia 9 bulan. Tak mungkin kami melakukan perjalanan 8 jam bermobil di tengah hujan salju yang kerap hadir karena memang sedang musim dingin, saatnya salju berjatuhan terutama di daerah tempat tinggal Papa René. Karena sedang menunggu waktu melahirkanku ini makanya kami tidak bisa berkumpul bersama beliau dan keluarga besar merayakan Natal, sebagimana biasanya. Kami hanya bisa membisikkan doa dari jauh agar Papa René diberi ketababahan menghadapi musibah ini.
Lewat Oncle Jean – adiknya papa René – kami mendapat tambahan info bahwa papa Rene setelah musibah selalu terlihat murung. Musibah itu telah merengut semangat hidupnya. Aku rasa bukan kehilangan materi yang membebaninya krn secara finansial Papa René tidaklah kekurangan. Dengan uang pensiunnya beliau bisa hidup berkecukupan, bisa jalan-jalan kapan saja beliau mau. Rasanya yang membuatnya tak bergairah adalah hilangnya suatu kesempatan yang selama berpuluh puluh tahun telah beliau nantikan. Seorang diri di rumah tanpa istri yg telah meninggal belasan tahun dan anak semata wayang (suamiku, red) yang tinggal 600 km away, menambah alasan untuk Papa René terpuruk dalam kesedihannya.
Berulang kali kami mendengar beliau berucap akan mentelantarkan hutannya, beliau tak mau lagi berurusan dengan areal hutannya. Walau sebenarnya beliau masih punya beberapa areal hutal di tiga tempat lain yang selamat dari serangan Tempête, tapi trauma Tempête membuatnya patah semangat dan tidak mau lagi berurusan dengan SEMUA areal hutannya Kami mengerti dan mengiyakan ucapannya. Sudah saatnya Papa Rene di usianya ygke 73 untuk berleha leha. Beliau bebas memutuskan harus diapakan areal hutan itu selanjutnya.
Tanggal 5 Januari 2000, sembilan hari setelah musibah Tempête, aku melahirkan. Seorang bayi laki-laki yang kami namai Richard Martin. Cucu pertama Papa René dan satu-satunya penerus nama keluarga Guerre. Khabar ini sangat membahagiakan Papa René dan mulai mengembalikan semangat hidupnya.
Selang dua bulan setelah Richard lahir, kami mendapat khabar baru. Papa René telah membersihkan hutannya dari tumbangan pohon. Kayu kayu dari pohon yang tumbang sebagian masih bisa terjual, walau hasilnya hanya sekitar 30 % dari jumlah uang yang seharusnya diterima kalau kayu-kayu itu dijual 4 bulan lagi. Dan berita yang lebih heboh lagi, Papa René akan menanam kembali lahan itu dengan 1000 pohon yang baru !
Hadirnya Richard sang cucu pertama, pembawa nama keluarga, telah mengembalikan semangat hidup Papa René. Di usia yang ke-73 beliau tetap semangat untuk mempersiapkan sesuatu buat cucunya. Menanam kembali 1000 pohon kayu pinus bukanlah hal yang mudah. Lobang yang dibuat harus lebar dan dalamnya minimal 60 cm. Semuanya dikerjakan sendiri dengan mencangkul secara manual. Semuanya dikerjakan dengan riang, walau nanti panen dan hasil dari pohon-pohon itu tak akan dinikmatinya. Hanya ada satu alasan dibalik semua itu : CINTA !

Posted in Uncategorized | Leave a comment